“Menulis adalah sebuah keberanian...” ― Pramoedya Ananta Toer

Padhang Wengi

Jadilah cahaya ditengah kegelapan

Dalam setiap pilihan hidup, pasti ada efek baik dan buruk sebagai sebuah konsekuansi yang selalu ada dan menyertai setiap pilihan yang ada. Kondisi yang sama juga berlaku terhadap corak produksi kapitalisme yang telah dipakai oleh sebagian Negara dunia sebagai system ekonominya. Disatu sisi, kapitalisme menawarkan berbagai solusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan manusia. Menurut beberapa pakar ekonom kapitalis, system ekonomi kapitalisme dapat menyelesaikan masalah-masalah yang membelenggu manusia seperti, kemiskinan, pengangguran dan berbagai kasus terutama yang berhubungan dengan masalah ekonomi. Layaknya setiap pilihan, termasuk system ekonomi pasti akan menimbulkan efek buruk yang patut kita waspadai.

Kapitalisme pada dasarnya merupakan sebuah system ekonomi dimana seseorang diarahkan untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Modal merupakan kata kunci dalam memahami prinsip kapitalisme secara keseluruhan. Kebebasan seorang individu diberi ruang yang luas untuk memproduksi apapun, tanpa ada harus campur tangan dari siapapun, termasuk Negara. Konsep ini sering kita dengar sebagai liberalisasi pasar. Kapitalisme dan liberalism merupakan paduan yang menjadi dasar kebanyakan system ekonomi yang dipakai oleh sebagian Negara didunia. Keduanya mengakibatkan adanya eksploitasi besar-besaran terhadap alam untuk mencapai keuntungan yang menjadi tujuan awal dari system ekonomi tersebut.

Eksploitasi yang dilakukan oleh kapitalisme pada dasarnya tidak dibatasi oleh nilai-nilai apapun, bahkan nilai agama sekalipun. Nilai yang ada dalam kapitalisme hanya nilai untuk mencari modal sebesar-besarnya. Kondisi diatas semakin memperparah eksploitasi yang dilakukan oleh system terhadap alam. Keuntungan diperbesar sedemikian rupa, tapi alam semakin terpuruk keadaannya. Ekploitasi kapitalisme terhadap alam melalui perusahaan pertambangan menimbulkan efek yang buruk bagi alam sendiri. Eksploitasi dalam berbagai jenis sector tambang telah meningkatkan rusaknya ekosistem alam dari berbagai sisi.

Pada abad ke-21, kapitalisme telah menjejakkan kakinya dibumi hamper ratusan tahun lamanya. Efek-efek buruk dari penjarahan kapitalisme telah kita rasakan pada awal abad ini. Kasus global warming merupakan contoh nyata dari keserakahan kapitalisme. Pemanasan bumi yang terjadi merupakan imbas langsung dari berbagai limbah pabrik dan berbagai macam limbah dari system produksi kapitalisme. Limbah pabrik tersebut mempengaruhi berbagai lapisan ozon yang ada di atmosfer. Dari seabad yang lalu, suhu bumi meningkat beberapa celcius karena sinar ultraviolet yang dipancarkan dari matahari tidak dapat dipantulkan kembali oleh lapisan atmosfer bumi. Meningkatnya suhu bumi, merupakan akibat langsung dari system kapitalisme yang mempunyai corak eksploitasi total dalam segala bidang.

Akibat lain dari gejala alam adalah perubahan musim. Dalam beberapa tahun terakhir, musim selalu ditandai dengan berbagai macam bencana yang berhubungan dengan perubahan cuaca yang drastic. Perubahan musim yang tidak jelas ini menyebabkan berbagai kerugian, baik fisik maupun material, terutama orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari musim. Petani dan nelayan yang berada di Negara-negara miskin dan berkembang akan langsung merasakan akibatnya. Bumi memang sedang menangis melihat keserakahan manusia yang terwakili oleh system kapitalisme.
Perhatikan sebuah peristiwa dibawah ini :

A adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan di Yogyakarta. Sehari-hari, A dikenal sebagai aktivis yang ada di kampusnya. Sedangkan B adalah seorang polisi anti huru-hara. Pada waktu itu, presiden SBY mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM dalam negeri dari Rp 4.500,- menjadi Rp 6.000,-. A sebagai seorang aktivis yang melihat keputusan ini sebagai keputusan yang tidak memihak kepada rakyat melakukan aksi demonstrasi di depan istana agung Yogyakarta. Sedangkan B, sebagai seorang polisi anti huru-hara ditugaskan untuk menjaga istana agung dari aksi demonstrasi tersebut. A dan B bertemu dalam satu peristiwa.

Dari peristiwa diatas dapat diperoleh fakta bahwa :
  • A dan B mempunyai motif atau sebab yang berbeda satu sama lain.
  • A dan B bertemu dalam satu peristiwa yang sama.
  • Prinsip sebab-akibat hadir karena ada prinsip sebab-akibat lain yang mendahuluinya.
  • Kausalitas menciptakan momentum yang berbeda antara subjek-subjek yang berbeda pula.
Pada point (1) dijelaskan bahwa A dan B sebagai sebuah subjek yang masing-masing berbeda latar belakang dan pekerjaannya mempunyai motif yang berbeda satu sama lain. Motif ini sendiri tercipta berdasarkan hukum kausalitas yang mendahuluinya. jika si A tidak kuliah di Yogyakarta, dia tidak mungkin bertemu dengan B, seorang polisi yang ditugaskan di depan istana agung pada waktu demonstrasi tersebut. Baik A maupun B mempunyai masing-masing sebab yang menyebabkan mereka bertemu dalam satu momentum yang sama.

Pada point (2) menjelaskan tentang momentum yang tercipta dari sebab-akibat yang mendahuluinya. A dan B bertemu di depan istana agung pada hari demonstrasi terjadi. Momentum disini adalah sebagai hasil dari motif masing-masing subjek yang berbeda. Dari contoh diatas bisa dilihat bahwa momentum yang ada (A dan B bertemu di depan istana agung), tercipta karena ada sebab yang melatarbelakangi keduanya, walaupun sebab A dan B tidak sama.

Di point (3) dijelaskan bahwa sebab-akibat hadir karena ada sebab-akibat yang mendahuluinya. Point ini merupakan rangkuman dari dua point diatas. A hadir di depan istana agung karena dia adalah mahasiswa yang melakukan demonstrasi untuk menolak kenaikan harga BBM. Jika A tidak dikuliahkan di jogja, momentum seperti contoh diatas bisa saja tidak terjadi. Jika orang tua si A tidak mampu membiayai kuliah, momentum tersebut tidak dapat terjadi. Hal ini menjadi prinsip kausalitas yang ada untuk menciptakan momentumnya sendiri. Pada dasarnya sebab –akibat berputar dengan menghadirkan setiap momentum dalam setiap perputarannya.

Pada point (4) menjelaskan bahwa prinsip sebab-akibat hadir dalam berbagai peristiwa yang membentuk momentumnya tersendiri. Beberapa sebab-akibat yang terjadi dapat bertemu disatu momentum yang sama. Seringkali sebab-akibat yang ada tidak berhubungan langsung dengan sebab-akibat lain, bahkan bertolak belakang. A sebagai seorang mahasiswa pasti bertemu dengan kawan-kawannya untuk membahas tentang aksi demonstrasi yang akan dilakukan. Pertemuan dia dengan kawan-kawannya merupakan momentum sendiri karena ada prinsip sebab-akibat yang mendahuluinya. Hal itu juga dialami oleh si B sebagai seorang polisi. Sebelum dia turum ke lapangan untuk mengamankan demonstrasi, dia pasti akan bertemu dengan komandannya dalam proses koordinasi. Peristiwa dimana dia dan komandannya bertemu merupakan momentum yang tercipta karena ada prinsip kausalitas.

Prinsip kausalitas atau sebab-akibat setiap kali kali hadir dalam kehidupan kita. Dari contoh peristiwa diatas, bisa dilihat bahwa A sebagai seorang mahasiswa bertemu dengan B yang merupakan seorang polisi dalam satu momentum tersendiri. Tetapi sebelum momentum itu sendiri hadir, ada hukum sebab-akibat yang mendahuluinya. Prinsip sebab akibat ini sendiri hadir sebagai akibat dari sebab-akibat yang ada sebelumnya. Prinsip kausalitas menghadirkan kausalitasnya yang lain, dan disetiap kausalitas-kausalitas tersebut tercipta momentum-momentum yang berbeda. Hubungan yang ada berbentuk perputaran prinsip kausalitas dengan momentum.
Waktu, apa itu waktu? Sebuah pertanyaan yang seringkali kita lupakan. Padahal kata ‘waktu’ itu sendiri sudah menjadi kata-kata yang sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita mau sedikit menggali jeli dalam pemikiran, kita akan banyak sekali melihat bahwa kita sebenarnya kurang atau bahkan mungkin tidak mengetahui makna dari kata yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ‘waktu’ itu sendiri. Lalu, apakah waktu itu? Dimana waktu itu berada? Bagaimana kita tahu waktu itu ada? Apakah waktu bergerak? Pertanyaan-pertanyaan seperti diatas sedikit banyak akan muncul saat kita berbicara tentang waktu. Mau tidak mau kita harus menjawab pertanyaan diatas, jika kita ingin memahami waktu itu sendiri.

Apakah waktu itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, waktu merupakan seluruh rangkaian saat ketika proses; perbuatan atau keadaaan berada atau berlangsung. Kata ini juga sering disebut dalam berbagai pelajaran, termasuk fisika dan filsafat. Tapi, apakah sebenarnya hakikat waktu itu sendiri?. Dalam kehidupan sehari-hari waktu mengacu pada perhitungan hari yang ada. Detik, menit, jam merupakaan satuan-satuan sering dipakai dalam memahami waktu. Tetapi, apakah satuan-satuan yang ada merupakan waktu itu sendiri?.

Tidak, karena satuan-satuan itu diciptakan oleh manusia dengan alat penunjuk waktu atau jam. Jadi dengan kata lain jika satuan-satuan tersebut merupakan waktu maka boleh dikatakan bahwa waktu itu sendiri ciptaan manusia.

Dari keterangan diatas, kita bisa mamahami bahwa waktu tidak bisa kita indera dalam alam material. Dengan melihat sifat diatas, dapat dikatakan bahwa waktu pada dasarnya merupakan abstraksi dari dari ide manusia. Jika waktu hanya merupakan abtraksi, kenapa kita bisa memahami berbagai ilmu dalam alam semesta dengan konsepsi waktu?. Waktu pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dalam ruang. Setiap ada ruang, pasti ada waktu.

Lalu, bagaimana kita tahu bahwa waktu itu ada?

Waktu tidak bisa dilepaskan dari ruang, bahkan sedetikpun mereka tidak boleh terlepas satu sama lain. Kita dapat memahami waktu karena pada dasarnya ruang waktu tidak terlepas. Saat salah satunya ada, maka yang lainnya akan ada juga. Saat keduanya berpadu, maka kita melihat adanya gerak yang terjadi dalam ruang waktu, bahkan kita bisa menghitungnya. Kita bisa melihat bahwa gerak itu sendiri merupakan konsepsi yang sering digunakan dalam menghitung waktu yang selama ini kita ketahui. Detik, menit, dan jam lahir dari konsepsi yang ada tentang gerak, bukan tentang waktu itu sendiri. Bahkan bisa dikatakan bahwa selama ini kita mengukur gerak dalam ruang, bukan gerak dalam waktu, karena pada dasarnya waktu itu sendiri tidak bergerak.

Kenapa Tuhan abadi?

Dalam pengetahuan kita mengenai agama, konsepsi Tuhan yang ada selalu digambarkan dengan dengan sifatnya yang Maha. Segala macam sifat Tuhan yang kita tahu mendasarkan pada kesempurnaan Dia sebagai sesuatu Dzat yang harus kita yakini. Tetapi, apakah memang benar sifat-sifat Tuhan seperti itu memang ada? Sehingga kita benar-benar menyakini bahwa Tuhan itu sendiri adalah sempurna, atau kita cukup puas dengan menyakini bahwa Tuhan harus ada tanpa bertanya? Itu masalah pilihan dalam memahami-Nya.

Suatu saat teman saya pernah bertanya tentang keberadaaan Tuhan “Apakah Tuhan bergerak atau tidak? Lalu aku menjawab “Tuhan itu tidak bergerak”. Lalu dia bertanya lagi “jika Tuhan tidak bergerak, bagaimana Dia menciptakan kita, menciptakan alam semesta dan mengaturnya, atau bahkan bagaimana mungkin sesuatu yang tidak bergerak bisa menjadi Tuhan?” pada titik pertanyaan itu aku sedikit ragu menjawabnya karena secara sekilas pertanyaan sekaligus pernyataannya logis dan masuk akal.

Selang beberapa lama aku memikirkannya, aku baru bisa menjawabnya setelah aku belajar tentang ruang dan waktu. Pada dasarnya, gerak hanya hadir dalam konsepsi kita tentang ruang. Apapun yang bergerak dalam ruang berarti sesuatu itu pasti terikat dengan waktu. Dalam konteks ini, aku bisa memahami bahwa Tuhan tidak bergerak karena Tuhan sendiri tidak terikat dalam konteks ruang waktu. Bagaimanapun sesuatu bergerak, pasti perubahan akan melingkupinya. Jadi pada dasarnya Tuhan meliputi ruang waktu yang ada, sehingga Dia tidak terikat dalam konsepsi gerak yang ada didalamnya. Tuhan bisa mempengaruhi segala gerak yang ada, tetapi segala gerak yang ada tidak akan bisa mempengaruhi kekuasaan Tuhan sendiri. Alam semesta hanya secercah cahaya Allah Yang Maha Agung. Wallahualam.
Sebuah pertanyaan dari dulu yang masih terngiang dipikiran. apakah ada sebuah dunia yang tidak ada dosa? sebuah dunia yang dihuni tanpa kemunafikan? sebuah dunia dimana tidak ada penindasan?
mencoba berpikir, merajut butir-butir tanya dan menetapkan hati, bahwa masih ada dunia yang seperti itu.

Tapi, setiap hari kaki melangkah. setiap jam mencoba bertanya. dan setiap detik meyakinkan hati. rasanya seperti bergulat dengan diri sendiri, tidak bisa menang, sekaligus tidak bisa kalah.
berpikir untuk tidak tercipta didunia, tetapi sang khalik mencipta tanpa sia-sia. ingin berbuat buruk, selalu ada norma yang bersuara. ingin berbuat baik, tidak ada guna didunia yang hanya diukur dari materialistiknya.

aku ingin pergi, tapi pergi kemana…
aku ingin mati, tapi takut neraka
aku ingin berbuat baik, tidak ada gunanya
apakah aku harus menyerah?
mencari dunia tanpa dosa…



Mereka bilang saya perusak. Mereka bilang saya pemarah. Mereka bilang saya perusuh. Tapi apakah benar seperti itu yang mereka pikirkan tentang saya. Saya memang merusak, karena saya jenuh dengan bualan para birokrat. Saya memang pemarah, melihat banyaknya korupsi di negeri ibu pertiwi. Saya memang perusuh, ketika kata-kata sudah tidak didengar lagi. Lalu dimana salah saya? Bahkan ketika saya membela mereka, saya tetap terhina, terhujat dan dianggap sebagai sampah yang harus dilenyapkan. Ah tak mengapa, walau mereka tidak tahu betapa saya memperjuangkan hak-hak mereka.

Dihujani peluru karet hal biasa, dipukulin polisi itu lebih lumrah. Mereka menganggap saya melakukannya hanya dengan duit Rp 50.000,-. Apakah hanya dengan melihat sebagian kecil berarti mengganggap semua sama. Dimana logika kalian? Kami membela kalian, kami memperjuangkan hak kalian. Apakah sikap seperti ini yang didapat ketika seseorang membela kepentingan kalian, walaupun seorang tersebut tidak mementingkan kepentingannya. Terlalu banyak yang kami pertaruhkan untuk kalian. Masa depan, harta yang tidak seberapa, bahkan nyawa beberapa dari kami yang disapa oleh peluru, nyasar atau memang sasaran.

Atau hasil yang kalian inginkan. Hasil ketika suatu rezim jatuh, baru dianggap pahlawan. Lalu bagaimana jika suatu rezim tidak jatuh, apakah kita kalah dimata kalian yang nilainya tidak lebih dari seorang preman pasar yang sukanya berbuat onar. Disanjung ketika menang, dihujat ketika kalah. Itu bukanlah sikap kesatria dari masyarakat berbudaya.

Apakah anarkis itu salah?

Anarkis adalah suatu tindakan. Apakah suatu tindakan bisa dianggap baik atau buruk?. Berbuat jujur juga suatu tindakan, tapi apakah selamanya berbuat jujur itu baik. Lalu ketika bapakmu dikejar orang hendak dibunuh dan bersembunyi dibawah kolong tidurmu, apakah kau akan mengungkap kejujuran terhadap orang yang mengejar bapakmu. Apakah itu sikap yang bijak. Jawabannya, tidak selamanya tindakan menjadi acuan baik buruknya suatu perbuatan. Anarkis juga suatu tindakan.

Lalu pertanyaan apa berikutnya...

Bagaimana tindakan anarkis itu muncul?


(Tulisan ini ditujukan penulis untuk kawan-kawan mahasiswa dalam aksi penolakan kenaikan harga BBM 28 Maret 2012)